Aku menikmati hidupku.....mungkin caraku berbeda dengan kebanyakan orang, kau hanya terlalu dangkal mengenalku...aku ingin mencoba menjadi apa saja karena dengan begitu aku merasa bisa berempatyhi dan memahami kehidupan. pada kenyataanya baik dan buruk seseorang tidak pernah bisa dinilai dari sekedar prestise, jabatan atau status...tapi buatku adalah alasan mengapa ia memilih untuk menjalaninya..manusia tetap manusia.. sama saja dihadapan Tuhan, lalu kenapa kita membeda-bedakan?.....seniman, guru, pejabat, bangsat, perek, pembunuH, mahasiswa atau glandangan...., pernahkah kita tau mengapa mereka memilih menjadi satu diantara pilihan-pilihan itu, jangan pernah menghujat kalau tak pernah tau alasan mereka, setiap orang memiliki berjuta variable dalam satu kehidupanya..dan kita cuma butuh alasan yang tepat untuk menjalaninya.
Aku hanya selalu ingin menjadi diriku, pilihan-pilihanku selalu aneh dan berbeda karena aKU memang tak pernah suka segala hal yang sama atau sesuatu yang terlalu seragam..itu membuatku merasa mati gaya dan tidak kreatif."Aku adalah diriku..dan akan selalu menjadi diriku samapi mati!..jangan pernah memaksa berusaha merubahku, karena kau hanya akan membuatku pecah berkeping-keping da rusak..tapi bawalah aku pada realitas yang menarik, tunjukanlah aku sudut-sudut yang indah, gunakan hatimu selembut mungkin maka aku akan luluh dan menemukan bentuk yang kau ingini sendiri tanpa konfrontasi dan benturan...
Aku mencari cinta dan ketulusan...bukan kesempurnaan.."Tersderah! apapun dan siapapun kamu...ketika kau mampu membuatku jatuh cinta, kau adalah segalanya bagiku. Terserah! bagaimanapun orang lain memandangmu, ketika kamu mampu mencintaiku dengan spenuh hati dan segenap tulus kau adalah segalanya bagiku....", jadi jangan pernah berfikir tentang kekuranganmu, tapi bagai mana menjadi yang terbaiik untukku....Aku lelaki biasa bukan apa-apa, dan tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa ridlo ALloh. tapi ketika aku mencintaimu..aku akan menjaedi apa saja, melakukan apa saja untuk membuatmu bahagia....
"Aku akan terus menantang dunia!!!!"...........
Purwokerto 23 November 2010
oleh Poky Cay pada 24 November 2010 jam 8:14
Total Tayangan Halaman
Selasa, 23 November 2010
Kamis, 11 November 2010
CeloteH: "KitA.."
CeloteH: "KitA..": "ini tentang kita... hati yang terpaut beku dalam kisah yang pudar.. ..meronta menantang waktu, bergayut terlunta.. ...jejak-jejak yan..."
"KitA.."
ini tentang kita...
hati yang terpaut beku dalam kisah yang pudar..
..meronta menantang waktu,
bergayut terlunta..
...jejak-jejak yang terus bersimpangan angkuh dalam samar dan kian biru...
bergerakn dalam ritme tak bernada dan tak pernah berhenti..
tanpa harmonisasi....
Dan hati semakin gersang ditikami hening..
...langkah-langkah semakin jauH....
hilang tak terbaca...
aku dan kamu semakin asing...
Namun, cinta akan menemukan jalannya.....
PokycaY, purwokerto 3 Nov 2010
hati yang terpaut beku dalam kisah yang pudar..
..meronta menantang waktu,
bergayut terlunta..
...jejak-jejak yang terus bersimpangan angkuh dalam samar dan kian biru...
bergerakn dalam ritme tak bernada dan tak pernah berhenti..
tanpa harmonisasi....
Dan hati semakin gersang ditikami hening..
...langkah-langkah semakin jauH....
hilang tak terbaca...
aku dan kamu semakin asing...
Namun, cinta akan menemukan jalannya.....
PokycaY, purwokerto 3 Nov 2010
Rabu, 03 November 2010
CeloteH: "Segelas Teh tubruK"
CeloteH: "Segelas Teh tubruK": "oleh Poky Cay pada 23 September 2010 jam 20:40 Hujan masih saja turun memadati ruang-malam yang berangsur menyepi, mengisi sisa-sisa petang ..."
"Segelas Teh tubruK"
oleh Poky Cay pada 23 September 2010 jam 20:40
Hujan masih saja turun memadati ruang-malam yang berangsur menyepi, mengisi sisa-sisa petang dengan segala temaram yang menopangku hingga sampai dihalaman rumah itu....Perempuan itu duduk disebelahku, terpisah oleh sebuah meja kaca bundar yang tidak biasanya sepenuh itu...sebuah gunting besar, segulung benang warna putih, kain-kain paneL, asbak kecil yang masih kosong.. semuanya tergeletak seadanya disana tanpa formasi yang jelas....
Perempuan itu bangkit..melewatiku begitu saja, kemudian kembali membawa secangkir Teh tubruk, aku menghirupnya pelan..." Tangan yang cekatan", ucapku dalam hati tanpa memandangnya secuilpun...aku perhatikan tanganya yang cekatan itu sibuk entah menjahit apa....kemudian melemparkan pandangku pada langit yang masih hujan, aku dan dia masih tetap diam...diam dalam pikiran masing-masing tanpa ada keinginan untuk menerka apa yang ia pikirkan...ini adalah malamku, maka aku akan menikmatinya dengan caraku....
Secangkir teH tubruk yang ia hidangkan tinggal setengah....aku matikan puntung rokok ke tiga meletakanya begitu saja diatas asbak kecil tadi, Aku memandang perempuan itu, memandangnya dalam-dalam dengan perasaan yang aku sendiri tak tau...Perempuan itu menyadarinya, mencoba membalas pandanganku, tapi sia-sia..dia tak pernah bisa melakukannya, kemudian Perempuan itu kembali menunduk...kali ini aku tak perduli, bahkan ketika aku kembali mencoba menemukan pesonanya...aku tidak menemukan apa-apa..hanya kekosongan....
Aku masih membiarkan pandangan mataku menerawang kelangit...hanyut dalam pikiranku sendiri, hilang kontak dengan realitas....ketika berangsur-angsur aku menyadari keberadaanku, kudapati langit masih mendung meski hujan tinggal sisa-sisa..kudengar lagu geisya melantun lirih lewat Mp3 player di HPnya,berganti lagi, berganti lagi masih dengan lagu-lagu melow...terdengar akrab tapi sama sekali tak tau siapa sang Biduan....
Aku bakar lagi Rokok ke empat...menikmatinya sambil sesekali menghirup Teh tubruk buatannya, masih diam tanpa berkata-kata hanya menikmatinya sendiri dengan diam dan angkuh...Asapnya memburai kemana-mana mengisi kehampaan ruang-ruang antara aku dan dia, merambati hening waktu kemudian menguap kelangit malam...AKu habiskan sisa-sisa Teh tubruk buatanya hingga tersisa cuma ampasnya, berdiri tanpa isyarat apapun...berjabat tangan tanpa memandang lagi wajahnya, yang aku yakini masih tetap cantik....kemudian pergi tanpa merasakan makna apapun.....
Hanya satu hal...Mungkin suatu hari aku akan merindukan secangkir TeH tubruk buatannya, atau tidak sama sekali....
PkycaY, 25 desembeR 2009
Hujan masih saja turun memadati ruang-malam yang berangsur menyepi, mengisi sisa-sisa petang dengan segala temaram yang menopangku hingga sampai dihalaman rumah itu....Perempuan itu duduk disebelahku, terpisah oleh sebuah meja kaca bundar yang tidak biasanya sepenuh itu...sebuah gunting besar, segulung benang warna putih, kain-kain paneL, asbak kecil yang masih kosong.. semuanya tergeletak seadanya disana tanpa formasi yang jelas....
Perempuan itu bangkit..melewatiku begitu saja, kemudian kembali membawa secangkir Teh tubruk, aku menghirupnya pelan..." Tangan yang cekatan", ucapku dalam hati tanpa memandangnya secuilpun...aku perhatikan tanganya yang cekatan itu sibuk entah menjahit apa....kemudian melemparkan pandangku pada langit yang masih hujan, aku dan dia masih tetap diam...diam dalam pikiran masing-masing tanpa ada keinginan untuk menerka apa yang ia pikirkan...ini adalah malamku, maka aku akan menikmatinya dengan caraku....
Secangkir teH tubruk yang ia hidangkan tinggal setengah....aku matikan puntung rokok ke tiga meletakanya begitu saja diatas asbak kecil tadi, Aku memandang perempuan itu, memandangnya dalam-dalam dengan perasaan yang aku sendiri tak tau...Perempuan itu menyadarinya, mencoba membalas pandanganku, tapi sia-sia..dia tak pernah bisa melakukannya, kemudian Perempuan itu kembali menunduk...kali ini aku tak perduli, bahkan ketika aku kembali mencoba menemukan pesonanya...aku tidak menemukan apa-apa..hanya kekosongan....
Aku masih membiarkan pandangan mataku menerawang kelangit...hanyut dalam pikiranku sendiri, hilang kontak dengan realitas....ketika berangsur-angsur aku menyadari keberadaanku, kudapati langit masih mendung meski hujan tinggal sisa-sisa..kudengar lagu geisya melantun lirih lewat Mp3 player di HPnya,berganti lagi, berganti lagi masih dengan lagu-lagu melow...terdengar akrab tapi sama sekali tak tau siapa sang Biduan....
Aku bakar lagi Rokok ke empat...menikmatinya sambil sesekali menghirup Teh tubruk buatannya, masih diam tanpa berkata-kata hanya menikmatinya sendiri dengan diam dan angkuh...Asapnya memburai kemana-mana mengisi kehampaan ruang-ruang antara aku dan dia, merambati hening waktu kemudian menguap kelangit malam...AKu habiskan sisa-sisa Teh tubruk buatanya hingga tersisa cuma ampasnya, berdiri tanpa isyarat apapun...berjabat tangan tanpa memandang lagi wajahnya, yang aku yakini masih tetap cantik....kemudian pergi tanpa merasakan makna apapun.....
Hanya satu hal...Mungkin suatu hari aku akan merindukan secangkir TeH tubruk buatannya, atau tidak sama sekali....
PkycaY, 25 desembeR 2009
Minggu, 31 Oktober 2010
“Seribu malam “
Cukla amannusa duduk menghadap perempuan itu, menatapnya lekat-lekat..bola matanya masih bening dan tenang seperti ketika pertama kali lelaki itu mengenalnya,ia menatapnya dalam-dalam, tanpa gestur dan ekspresi..mengungkapkan jutaan perarasaan sembari bercerita tentang kebekuan hatinya selama ini dalam melewati beribu-ribu malam hening tanpa bersuara lewat matanya, malam itu hanya hatinya yang bercerita....hanya hatinya.
Perempuan itu diam, menatap cukla amanusa dengan penuh simpati , dalam keanggunan yang sempurna, mengegenggam tangan lelaki dihadapannya kemudian mengalihkan pandang menyusuri sisa-sisa genanga air hujan ditiap inci tubuh lelaki itu, mengngegam tangannya lebih erat merasakan kebekuan di kulit lelaki itu yang memucat.....sejenak pandangan matanya berubah menjadi khawatir dan penuh iba...kemudian ia beranjak dari duduknya meninggalkan lelaki itu tanpa sepatah katapun. Mungkin perempuan itu tidak pernah tau bahwa detik-detik itu adalah saat-saat jiwanya terasa hidup kembali setelah bertahun tahun membeku dalam keheningan rasa. Beberapa saat kemudian perempuan itu kembali membawa handuk kering...memberikannya pada lelaki itu, membuatkanya segelas teh tubruk dengan penuh ketekunan dan tulus seperti seorang Ibu.....
Cukla amannusa kembali menggenggam jari-jemari perempuan itu ketika perempuan itu kembali duduk dihadapannya “Aku hanya berusaha menepati janjiku, maaf...” ucapnya pelan dengan suara datar, perempuan itu mengangguk pelan...,ia ingin berkata lebih banyak lagi tapi tak sanggup..keduanya kembali tenggelam dalam komunikasi diam, mengunggkapan jutaan perasaan tanpa bersuara, cukla amannusa menatap mata beningnya dalam dalam, tersesat disana..mengembara kedalam dasar jiwanya...dan merasa begitu tenang disana..
Sudah hampir tengah malam ketika Cukla amannusa mendapati kedua mata bening perempuan itu berkaca-kaca..ia sama sekali tak rela, tak pernah lagi ia menginginkan perempuan itu menangis, tak pernah, Ia genggam jari-jemari perempuan itu lebih erat dengan seganap rasa dan seluruh khidmat...sementara ia berusaha, menyeka wajah perempuan itu dari air mata agar tetap indah dan selalu bening...ia sendiri tak mampu menahan sejuta rasa yang menderu dan bergejolak dihatinya...wajah anggun didepannya memudar dalam bias pandangannya, semakin membuyar dalam cahaya, dan ia tau mata-nyapun mulai berkaca-kaca saat itu ...Ia tak sanggup lagi untuk lebih lama disana, semua cerita tentang kerinduan dan seribu malam telah Ia curahkan, Ia telah menepati janjinya, ia telah mengungkapkan dan menjaga cintanya..dikecupnya lembut kening perempuan itu tiga kali dengan kesahajaan yang dalam..kemudian ia pergi sambil berjanji pada dirinya untuk menempatkan perempuan bermata bening ini di hatinya sebagai yang terindah....
Itu adalah suatu malam 22 january 2010, setelah 6 tahun berlalu dan ia pernah berjanji pada perempuan itu bahwa ia akan datang entah dalam kondisi seperti apapun, untuk berada dihadapan perempuan itu dengan seluruh cinta yang masih terjaga di dalam hatinya. Itu adalah suatu malam setelah penyesalan panjang seribu malam dalam kehampaan hatinya setelah malam-malam tanpa batas penuh bait-bait doa dalam rokaat-rokaat khusyu di sepertiga malam terakhir ia berdialog panjang dengan Tuhannya,...itu adlah suatu malam setelah perjalanan panjang purwokerto bandung dengan hujan paling kejam tanpa henti dan sejuta cinta...
Trimakasih buat Mz.Hendrix untuk waktu dan 3 lempeng kerak telor yang akhirnya ngeboN..., trimakasih bwtr Mz.Langtiep kopeta utuk tumpangan bubu nya dan udah ngajak kita muter2 bandung,..hehe.
PokycaY..., Rewrait 28 0kt 2010
Perempuan itu diam, menatap cukla amanusa dengan penuh simpati , dalam keanggunan yang sempurna, mengegenggam tangan lelaki dihadapannya kemudian mengalihkan pandang menyusuri sisa-sisa genanga air hujan ditiap inci tubuh lelaki itu, mengngegam tangannya lebih erat merasakan kebekuan di kulit lelaki itu yang memucat.....sejenak pandangan matanya berubah menjadi khawatir dan penuh iba...kemudian ia beranjak dari duduknya meninggalkan lelaki itu tanpa sepatah katapun. Mungkin perempuan itu tidak pernah tau bahwa detik-detik itu adalah saat-saat jiwanya terasa hidup kembali setelah bertahun tahun membeku dalam keheningan rasa. Beberapa saat kemudian perempuan itu kembali membawa handuk kering...memberikannya pada lelaki itu, membuatkanya segelas teh tubruk dengan penuh ketekunan dan tulus seperti seorang Ibu.....
Cukla amannusa kembali menggenggam jari-jemari perempuan itu ketika perempuan itu kembali duduk dihadapannya “Aku hanya berusaha menepati janjiku, maaf...” ucapnya pelan dengan suara datar, perempuan itu mengangguk pelan...,ia ingin berkata lebih banyak lagi tapi tak sanggup..keduanya kembali tenggelam dalam komunikasi diam, mengunggkapan jutaan perasaan tanpa bersuara, cukla amannusa menatap mata beningnya dalam dalam, tersesat disana..mengembara kedalam dasar jiwanya...dan merasa begitu tenang disana..
Sudah hampir tengah malam ketika Cukla amannusa mendapati kedua mata bening perempuan itu berkaca-kaca..ia sama sekali tak rela, tak pernah lagi ia menginginkan perempuan itu menangis, tak pernah, Ia genggam jari-jemari perempuan itu lebih erat dengan seganap rasa dan seluruh khidmat...sementara ia berusaha, menyeka wajah perempuan itu dari air mata agar tetap indah dan selalu bening...ia sendiri tak mampu menahan sejuta rasa yang menderu dan bergejolak dihatinya...wajah anggun didepannya memudar dalam bias pandangannya, semakin membuyar dalam cahaya, dan ia tau mata-nyapun mulai berkaca-kaca saat itu ...Ia tak sanggup lagi untuk lebih lama disana, semua cerita tentang kerinduan dan seribu malam telah Ia curahkan, Ia telah menepati janjinya, ia telah mengungkapkan dan menjaga cintanya..dikecupnya lembut kening perempuan itu tiga kali dengan kesahajaan yang dalam..kemudian ia pergi sambil berjanji pada dirinya untuk menempatkan perempuan bermata bening ini di hatinya sebagai yang terindah....
Itu adalah suatu malam 22 january 2010, setelah 6 tahun berlalu dan ia pernah berjanji pada perempuan itu bahwa ia akan datang entah dalam kondisi seperti apapun, untuk berada dihadapan perempuan itu dengan seluruh cinta yang masih terjaga di dalam hatinya. Itu adalah suatu malam setelah penyesalan panjang seribu malam dalam kehampaan hatinya setelah malam-malam tanpa batas penuh bait-bait doa dalam rokaat-rokaat khusyu di sepertiga malam terakhir ia berdialog panjang dengan Tuhannya,...itu adlah suatu malam setelah perjalanan panjang purwokerto bandung dengan hujan paling kejam tanpa henti dan sejuta cinta...
Trimakasih buat Mz.Hendrix untuk waktu dan 3 lempeng kerak telor yang akhirnya ngeboN..., trimakasih bwtr Mz.Langtiep kopeta utuk tumpangan bubu nya dan udah ngajak kita muter2 bandung,..hehe.
PokycaY..., Rewrait 28 0kt 2010
"Slamat tinggal Rembulan" (cukla amannusa)
Waktu yang seringkali membuatnya terburu-buru sepertinya tidak lagi ia hiraukan, Ia lebih tenang..matanya yang dulu liar dan memandang orang lain dengan tatapan berontak sekarang dalam dan acuh. Dia tidak pernah takluk pada apapun kecuali intuisinya...seorang egaliter sejati, sosialis yang selalu menjalani hidup dengan caranya yang ekstrim...
Sepanjang malam tadi aku duduk bersamanya...menemaninya memandang rembulan yang hampir penuh,...entahlah, sepertinya Ia sedang berusaha menagkap makna..hampir berjam-jam tidak berkata-kata..hanya diam dan diam....
Untuk yang pertama dan terakhir sebelum Ia beranjak dari duduknya dan pergi ..aku mendengar Ia berucap.."Biarkan Rembulan tenggelam sendiri..".
kemudian lelaki itu pergi...
PokycaY, Puertorico 06 mei 2010
Sepanjang malam tadi aku duduk bersamanya...menemaninya memandang rembulan yang hampir penuh,...entahlah, sepertinya Ia sedang berusaha menagkap makna..hampir berjam-jam tidak berkata-kata..hanya diam dan diam....
Untuk yang pertama dan terakhir sebelum Ia beranjak dari duduknya dan pergi ..aku mendengar Ia berucap.."Biarkan Rembulan tenggelam sendiri..".
kemudian lelaki itu pergi...
PokycaY, Puertorico 06 mei 2010
"....Ibu..."
Tanggerang 181009
Suatu waktu ketika malam mulai kehilangan kemegahnya, hening merambati setiap ruang...Perempuan itu masih tetap khusyu diatas sajadah yang mulai kumal dimakan waktu, samar aku mencoba menangkap bisikan kata-katanya..samar, tidak satupun yang mampu kupahami, tanganya tengadah..diam tenang, seperti malam yang menyelimutinya...entah sudah berapa malam ia lewati dengan mesra, berbisik pada TuhanNYA, dan ketika adzan subuh mengumandang...perlahan ia beringsut, berdiri dengan tenang, kemudian kembali diam setelah takbirotul ikhrom pertama. ia nampak seperti malam itu sendiri, ketenanganya wajar.. seadanya..dan ia kelihatan begitu bersahaja dan anggun mengenakan mukena putih itu....
Pagi....ketika riuh anak-anak SD mulai memadati jalan depan rumahku, aku mendengar suaranya mamanggil perlahan, mengusik tidurku yang sudah terlalu panjang, mengajak seisi rumah menantang pagi..di meja belakang 5 cangkir teh tubruk telah tersaji dengan rapi diatas mampan plastik, asapnya mengepul menyebarkan aroma wangi mengapung di ruang-ruang jiwa,...aku menatap cangkir-cangkir itu seadanya...menghitung dihatiku...,1, 2, 3, 4, 5. Untuk Ayahku, aku dan adik-adikku.
Perempuan itu berdiri tidak jauh dari tempat cangkir Teh-teh paling nikmat itu tersaji, berdiri didepan penggorengan yang hitam kelam oleh jelaga-jelaga mati, menyiapkan sarapan pagi dengan bumbu sejuta ikhlas. Aku menatapnya lekat-lekat...Ada sejuta haru merambati tubuhku, Aku masih menatapnya lekat-lekat...Perempuan itu kelihatan semakin tua, garis-garis wajahnya makin kentara, rambutnya semakin putih, Aku kembali menyaksikan senyumannya tulus...sekedar senyum yang telah memberi banyak semangat dihidupku..entah sudah berapa pagi yang aku lewatkan begitu saja tanpa kesadaran ini.....kesadaran bahwa ia adalah perempuan paling cantik yang pernah aku kenal.
Pagi itu aku benar-benar ingin memeluknya..memeluk perempuan paling hebat, perempuan paling tabah, perempuan keras kepala yang tidak pernah menyerah untuk menantang rumitnya dunia untuk keluarganya...pekerja keras yang akan melakukan apa saja untuk anak-anaknya, pribadi paling tangguh yang telah mengusahakan apapun demi kesejahteraan anak anaknya, pendidikanya..mimpi-mimpinya..
Aku yakin perempuan sehebat itu tidak akan pernah melahirkan seorang pecundang...tidak pernah, bahkan sejak dirahimnya, perempuan seperti itu telah dianugrahi keyakinan suatu hari akan melahirkan Pribadi-pribadi Hebat...dan untukmu Ibu...aku akan selalu menjadi lelaki kecilmu yang kau impikan.
Terima kasih untuk semua indah dan tulusmu...
Suatu waktu ketika malam mulai kehilangan kemegahnya, hening merambati setiap ruang...Perempuan itu masih tetap khusyu diatas sajadah yang mulai kumal dimakan waktu, samar aku mencoba menangkap bisikan kata-katanya..samar, tidak satupun yang mampu kupahami, tanganya tengadah..diam tenang, seperti malam yang menyelimutinya...entah sudah berapa malam ia lewati dengan mesra, berbisik pada TuhanNYA, dan ketika adzan subuh mengumandang...perlahan ia beringsut, berdiri dengan tenang, kemudian kembali diam setelah takbirotul ikhrom pertama. ia nampak seperti malam itu sendiri, ketenanganya wajar.. seadanya..dan ia kelihatan begitu bersahaja dan anggun mengenakan mukena putih itu....
Pagi....ketika riuh anak-anak SD mulai memadati jalan depan rumahku, aku mendengar suaranya mamanggil perlahan, mengusik tidurku yang sudah terlalu panjang, mengajak seisi rumah menantang pagi..di meja belakang 5 cangkir teh tubruk telah tersaji dengan rapi diatas mampan plastik, asapnya mengepul menyebarkan aroma wangi mengapung di ruang-ruang jiwa,...aku menatap cangkir-cangkir itu seadanya...menghitung dihatiku...,1, 2, 3, 4, 5. Untuk Ayahku, aku dan adik-adikku.
Perempuan itu berdiri tidak jauh dari tempat cangkir Teh-teh paling nikmat itu tersaji, berdiri didepan penggorengan yang hitam kelam oleh jelaga-jelaga mati, menyiapkan sarapan pagi dengan bumbu sejuta ikhlas. Aku menatapnya lekat-lekat...Ada sejuta haru merambati tubuhku, Aku masih menatapnya lekat-lekat...Perempuan itu kelihatan semakin tua, garis-garis wajahnya makin kentara, rambutnya semakin putih, Aku kembali menyaksikan senyumannya tulus...sekedar senyum yang telah memberi banyak semangat dihidupku..entah sudah berapa pagi yang aku lewatkan begitu saja tanpa kesadaran ini.....kesadaran bahwa ia adalah perempuan paling cantik yang pernah aku kenal.
Pagi itu aku benar-benar ingin memeluknya..memeluk perempuan paling hebat, perempuan paling tabah, perempuan keras kepala yang tidak pernah menyerah untuk menantang rumitnya dunia untuk keluarganya...pekerja keras yang akan melakukan apa saja untuk anak-anaknya, pribadi paling tangguh yang telah mengusahakan apapun demi kesejahteraan anak anaknya, pendidikanya..mimpi-mimpinya..
Aku yakin perempuan sehebat itu tidak akan pernah melahirkan seorang pecundang...tidak pernah, bahkan sejak dirahimnya, perempuan seperti itu telah dianugrahi keyakinan suatu hari akan melahirkan Pribadi-pribadi Hebat...dan untukmu Ibu...aku akan selalu menjadi lelaki kecilmu yang kau impikan.
Terima kasih untuk semua indah dan tulusmu...
Langganan:
Komentar (Atom)