Total Tayangan Halaman

Minggu, 31 Oktober 2010

“Seribu malam “

Cukla amannusa duduk menghadap perempuan itu, menatapnya lekat-lekat..bola matanya masih bening dan tenang seperti ketika pertama kali lelaki itu mengenalnya,ia menatapnya dalam-dalam, tanpa gestur dan ekspresi..mengungkapkan jutaan perarasaan sembari bercerita tentang kebekuan hatinya selama ini dalam melewati beribu-ribu malam hening tanpa bersuara lewat matanya, malam itu hanya hatinya yang bercerita....hanya hatinya.

Perempuan itu diam, menatap cukla amanusa dengan penuh simpati , dalam keanggunan yang sempurna, mengegenggam tangan lelaki dihadapannya kemudian mengalihkan pandang menyusuri sisa-sisa genanga air hujan ditiap inci tubuh lelaki itu, mengngegam tangannya lebih erat merasakan kebekuan di kulit lelaki itu yang memucat.....sejenak pandangan matanya berubah menjadi khawatir dan penuh iba...kemudian ia beranjak dari duduknya meninggalkan lelaki itu tanpa sepatah katapun. Mungkin perempuan itu tidak pernah tau bahwa detik-detik itu adalah saat-saat jiwanya terasa hidup kembali setelah bertahun tahun membeku dalam keheningan rasa. Beberapa saat kemudian perempuan itu kembali membawa handuk kering...memberikannya pada lelaki itu, membuatkanya segelas teh tubruk dengan penuh ketekunan dan tulus seperti seorang Ibu.....

Cukla amannusa kembali menggenggam jari-jemari perempuan itu ketika perempuan itu kembali duduk dihadapannya “Aku hanya berusaha menepati janjiku, maaf...” ucapnya pelan dengan suara datar, perempuan itu mengangguk pelan...,ia ingin berkata lebih banyak lagi tapi tak sanggup..keduanya kembali tenggelam dalam komunikasi diam, mengunggkapan jutaan perasaan tanpa bersuara, cukla amannusa menatap mata beningnya dalam dalam, tersesat disana..mengembara kedalam dasar jiwanya...dan merasa begitu tenang disana..

Sudah hampir tengah malam ketika Cukla amannusa mendapati kedua mata bening perempuan itu berkaca-kaca..ia sama sekali tak rela, tak pernah lagi ia menginginkan perempuan itu menangis, tak pernah, Ia genggam jari-jemari perempuan itu lebih erat dengan seganap rasa dan seluruh khidmat...sementara ia berusaha, menyeka wajah perempuan itu dari air mata agar tetap indah dan selalu bening...ia sendiri tak mampu menahan sejuta rasa yang menderu dan bergejolak dihatinya...wajah anggun didepannya memudar dalam bias pandangannya, semakin membuyar dalam cahaya, dan ia tau mata-nyapun mulai berkaca-kaca saat itu ...Ia tak sanggup lagi untuk lebih lama disana, semua cerita tentang kerinduan dan seribu malam telah Ia curahkan, Ia telah menepati janjinya, ia telah mengungkapkan dan menjaga cintanya..dikecupnya lembut kening perempuan itu tiga kali dengan kesahajaan yang dalam..kemudian ia pergi sambil berjanji pada dirinya untuk menempatkan perempuan bermata bening ini di hatinya sebagai yang terindah....

Itu adalah suatu malam 22 january 2010, setelah 6 tahun berlalu dan ia pernah berjanji pada perempuan itu bahwa ia akan datang entah dalam kondisi seperti apapun, untuk berada dihadapan perempuan itu dengan seluruh cinta yang masih terjaga di dalam hatinya. Itu adalah suatu malam setelah penyesalan panjang seribu malam dalam kehampaan hatinya setelah malam-malam tanpa batas penuh bait-bait doa dalam rokaat-rokaat khusyu di sepertiga malam terakhir ia berdialog panjang dengan Tuhannya,...itu adlah suatu malam setelah perjalanan panjang purwokerto bandung dengan hujan paling kejam tanpa henti dan sejuta cinta...

Trimakasih buat Mz.Hendrix untuk waktu dan 3 lempeng kerak telor yang akhirnya ngeboN..., trimakasih bwtr Mz.Langtiep kopeta utuk tumpangan bubu nya dan udah ngajak kita muter2 bandung,..hehe.



PokycaY..., Rewrait 28 0kt 2010



"Slamat tinggal Rembulan" (cukla amannusa)

Waktu yang seringkali membuatnya terburu-buru sepertinya tidak lagi ia hiraukan, Ia lebih tenang..matanya yang dulu liar dan memandang orang lain dengan tatapan berontak sekarang dalam dan acuh. Dia tidak pernah takluk pada apapun kecuali intuisinya...seorang egaliter sejati, sosialis yang selalu menjalani hidup dengan caranya yang ekstrim...
Sepanjang malam tadi aku duduk bersamanya...menemaninya memandang rembulan yang hampir penuh,...entahlah, sepertinya Ia sedang berusaha menagkap makna..hampir berjam-jam tidak berkata-kata..hanya diam dan diam....
Untuk yang pertama dan terakhir sebelum Ia beranjak dari duduknya dan pergi ..aku mendengar Ia berucap.."Biarkan Rembulan tenggelam sendiri..".
kemudian lelaki itu pergi...

PokycaY, Puertorico 06 mei 2010

"....Ibu..."

Tanggerang 181009

Suatu waktu ketika malam mulai kehilangan kemegahnya, hening merambati setiap ruang...Perempuan itu masih tetap khusyu diatas sajadah yang mulai kumal dimakan waktu, samar aku mencoba menangkap bisikan kata-katanya..samar, tidak satupun yang mampu kupahami, tanganya tengadah..diam tenang, seperti malam yang menyelimutinya...entah sudah berapa malam ia lewati dengan mesra, berbisik pada TuhanNYA, dan ketika adzan subuh mengumandang...perlahan ia beringsut, berdiri dengan tenang, kemudian kembali diam setelah takbirotul ikhrom pertama. ia nampak seperti malam itu sendiri, ketenanganya wajar.. seadanya..dan ia kelihatan begitu bersahaja dan anggun mengenakan mukena putih itu....
Pagi....ketika riuh anak-anak SD mulai memadati jalan depan rumahku, aku mendengar suaranya mamanggil perlahan, mengusik tidurku yang sudah terlalu panjang, mengajak seisi rumah menantang pagi..di meja belakang 5 cangkir teh tubruk telah tersaji dengan rapi diatas mampan plastik, asapnya mengepul menyebarkan aroma wangi mengapung di ruang-ruang jiwa,...aku menatap cangkir-cangkir itu seadanya...menghitung dihatiku...,1, 2, 3, 4, 5. Untuk Ayahku, aku dan adik-adikku.
Perempuan itu berdiri tidak jauh dari tempat cangkir Teh-teh paling nikmat itu tersaji, berdiri didepan penggorengan yang hitam kelam oleh jelaga-jelaga mati, menyiapkan sarapan pagi dengan bumbu sejuta ikhlas. Aku menatapnya lekat-lekat...Ada sejuta haru merambati tubuhku, Aku masih menatapnya lekat-lekat...Perempuan itu kelihatan semakin tua, garis-garis wajahnya makin kentara, rambutnya semakin putih, Aku kembali menyaksikan senyumannya tulus...sekedar senyum yang telah memberi banyak semangat dihidupku..entah sudah berapa pagi yang aku lewatkan begitu saja tanpa kesadaran ini.....kesadaran bahwa ia adalah perempuan paling cantik yang pernah aku kenal.
Pagi itu aku benar-benar ingin memeluknya..memeluk perempuan paling hebat, perempuan paling tabah, perempuan keras kepala yang tidak pernah menyerah untuk menantang rumitnya dunia untuk keluarganya...pekerja keras yang akan melakukan apa saja untuk anak-anaknya, pribadi paling tangguh yang telah mengusahakan apapun demi kesejahteraan anak anaknya, pendidikanya..mimpi-mimpinya..
Aku yakin perempuan sehebat itu tidak akan pernah melahirkan seorang pecundang...tidak pernah, bahkan sejak dirahimnya, perempuan seperti itu telah dianugrahi keyakinan suatu hari akan melahirkan Pribadi-pribadi Hebat...dan untukmu Ibu...aku akan selalu menjadi lelaki kecilmu yang kau impikan.

Terima kasih untuk semua indah dan tulusmu...